Berita

Tesla hentikan sistem Autopilot untuk dorong adopsi Full Self-Driving

×

Tesla hentikan sistem Autopilot untuk dorong adopsi Full Self-Driving

Sebarkan artikel ini


Jakarta (ANTARA) – Tesla menghentikan sistem bantuan pengemudi dasar yang selama ini menjadi fitur standar pada kendaraan listriknya, Autopilot, guna mendorong adopsi teknologi yang lebih canggih yakni Full Self-Driving (FSD).

Dilansir dari Tech Crunch pada Sabtu, keputusan ini diambil di tengah tekanan regulasi di California, pasar terbesar Tesla di Amerika Serikat.

Perusahaan menghadapi potensi penangguhan izin manufaktur dan dealer selama 30 hari setelah pengadilan memutuskan bahwa Tesla terbukti melakukan pemasaran yang menyesatkan dengan melebih-lebihkan kemampuan Autopilot dan FSD selama bertahun-tahun.

Departemen Kendaraan Bermotor (DMV) California memberikan masa penangguhan selama 60 hari agar Tesla mematuhi putusan tersebut, termasuk dengan menghentikan penggunaan nama Autopilot.

Baca juga: Tesla jadikan fitur mengemudi otomatis langganan Rp1,6 juta per bulan

Autopilot sebelumnya merupakan kombinasi dari Traffic Aware Cruise Control, yang menjaga kecepatan dan jarak dengan kendaraan di depannya, serta Autosteer, fitur penjaga lajur yang mampu mengarahkan mobil di tikungan.

Namun, berdasarkan situs konfigurasi daring Tesla, kendaraan baru kini hanya dibekali Traffic Aware Cruise Control sebagai fitur standar. Belum ada kejelasan apakah perubahan ini berdampak pada pelanggan lama.

Penghentian Autopilot juga bertepatan dengan perubahan skema penjualan FSD. Tesla mengumumkan bahwa mulai 14 Februari, perusahaan tidak lagi mengenakan biaya sekali bayar sebesar 8.000 dolar AS untuk perangkat lunak FSD.

Akses FSD selanjutnya hanya tersedia melalui sistem berlangganan bulanan senilai 99 dolar AS. CEO Tesla Elon Musk menyatakan harga langganan tersebut berpotensi meningkat seiring bertambahnya kemampuan perangkat lunak.

Elon berulang kali menyebut kendaraan Tesla generasi terbaru nantinya mampu mengemudi secara otonom tanpa pengawasan manusia. Ia bahkan mengklaim perkembangan FSD akan memungkinkan pengemudi menggunakan ponsel atau tertidur selama perjalanan, meskipun praktik tersebut melanggar hukum lalu lintas di hampir seluruh negara bagian AS.

Baca juga: Tesla hadirkan kembali opsi tujuh penumpang pada Model Y 2026

Sebelumnya, Tesla juga mulai mengoperasikan versi robotaxi Model Y di Austin, Texas, tanpa petugas keselamatan di dalam kendaraan. Meski demikian, unit tersebut masih diawasi oleh kendaraan Tesla lain dan menggunakan versi perangkat lunak yang lebih canggih.

Tesla meluncurkan versi beta FSD pada akhir 2020, namun tingkat adopsinya dinilai masih rendah. Pada Oktober 2025, Kepala Keuangan Tesla Vaibhav Taneja menyebut hanya sekitar 12 persen pelanggan Tesla yang membayar untuk FSD.

Target mencapai 10 juta pelanggan aktif FSD pada 2035 menjadi salah satu syarat utama bagi Elon untuk menerima penuh paket kompensasi senilai 1 triliun dolar AS.

Autopilot sendiri pertama kali diperkenalkan pada awal 2010-an dan dijadikan fitur standar di seluruh kendaraan Tesla sejak April 2019. Selama lebih dari satu dekade, Tesla kerap dikritik karena dinilai tidak jelas dalam mengomunikasikan keterbatasan sistem tersebut.

Menurut Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS (NHTSA), kesalahpahaman atas kemampuan Autopilot berkontribusi pada ratusan kecelakaan dan sedikitnya 13 korban jiwa.

Baca juga: Penumpang akan diminta bayar bea kebersihan kalau bikin kotor robotaxi

Baca juga: BYD resmi kalahkan Tesla dalam penjualan kendaraan listrik tahun 2025

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *